Laman

Senin, 22 Agustus 2011

My Star

Dear Kimmy,,
Di Surga.

Apa kabar Kimmy? Bagaimana keadaanmu? Apa kau sehat? Aku sungguh merindukanmu di sini.

Kimmy,
Setahun yang lalu kau tinggalkan aku untuk selamanya. Kenapa kau pergi begitu saja? Ini semua terlalu cepat untukku. Aku tahu, ini semua bukan salahmu. Aku tahu, kau juga tidak ingin begini. Aku bisa melihatnya dari air matamu yang mengalir ketika kau genggam tanganku saat kau berbicara denganku setahun yang lalu. Sebenarnya, aku tidak pernah kuat melihatmu yang tak berdaya di atas tempat tidur. Tapi itu bukan berarti Kimmy yang dulu—yang bisa berlari, yang bisa melompat, yang bisa tertawa—sudah tiada.

Kimmy,
Kau masih ingat? Ketika kau peluk aku dari belakang dan kau katakan bahwa kau sayang padaku? Apa itu masih berlaku sekarang? Apa kau juga ingat? Ketika aku kedinginan, kau lempar jaket putihmu ke kepalaku—ini kan, yang selalu membuatmu tertawa?—dan kau peluk aku dengan kencang. Kencang sekali. Sampai-sampai serasa darahku berhenti mengalir.

Kimmy,
Kau pernah bilang padaku, jika kau ingin pergi dengan tubuhmu yang utuh. Makannya kau biarkan kanker itu menyerang tulang-tulangmu sampai puas. Dari luar kau terlihat tegar dan kuat, Kimmy. Tetapi aku tahu, sebenarnya di dalam hatimu, kau mengerang.

Kimmy,
Kau ingat? Pertama kali kita bertemu di Rental Video . Kau menyewa Die Hard, dan aku menyewa Titanic. Kau yang dapat giliran antri di depan, dan aku di belakangmu. Kau yang bayar duluan, dan aku belakangan. Dan yang sangat kuingat adalah saat kau hendak pulang. Ketika kau buka pintu kacanya, aku berdiri di belakangmu. Tetapi kau malah menutup pintu itu kencang-kencang sehingga mengenai dahiku dan terluka. Saat itu kau malah tertawa melihat hidungku. Kau kira hidungku pesek akibat terkena pintu tadi. Kau ingat kan? Itu pertemuan pertama kita.

Kimmy,
Kau suka musik berirama accoustic gitar pelan kan? Kau ingat? Kau pernah memainkan lagu “Love Me” untukku dengan irama gitarmu. Dan apakah kau ingat? Bahwa aku suka membuat sebuah kata-kata. Kau pernah bilang bahwa kata-kata yang kubuat untukmu itu bagus. Sampai-sampai kau tulis di dinding kamarmu.

Kimmy,
Apa kau juga ingat? Di ulangtahunku yang ke-19, kau kado aku sebuah Kaset CD yang kau bungkus dengan kain warna putih kesukaanmu dan pita warna biru kesukaanku. Aku sangat senang begitu tahu kaset CD itu berisi lagu-lagu yang kau aransemen sendiri dengan gitarmu. Apalagi begitu aku tahu bahwa terdapat lagu “Love Me” kesukaanku di dalamnya. Sekarang kaset CD itu masih tersimpan di “Kotak Kimmy” milik ku.

Kimmy,
Kau bilang bahwa aku seorang pembohong karena aku selalu bilang “tidak” ketika kenyataannya adalah “ya”. Kau bilang bahwa aku mirip seperti tokoh di Avatar karena hidungku “masuk”. Dan kau tidak suka jika aku ikat separuh rambutku. Kau pasti akan mengambil pengikatnya dan menyembunyikannya.

Kimmy,
14 Maret 2004. Kau ingat hari apa itu? White Day, Kimmy. Hari itu hujan deras sekali. Kau meneleponku dan menyuruhku melihat bintang. Saat itu aku menganggapmu bodoh. Mana ada bintang yang bersinar disaat hujan sederas ini? Tetapi aku menurut saja. Kusibakkan tirai dan kubuka jendela kamarku. Ya! Kau benar Kimmy. Aku tidak jadi menganggapmu bodoh. Ada bintang! Bahkan bersinar lebih dari bintang-bintang lain. Itu dia Bintangku! Namanya Kimmy.

Kimmy,
Kankermu adalah semangatmu. Semangatmu untuk tetap hidup meski menderita. 4 tahun yang lalu kau beri tahu aku tentang penyakitmu. Saat itu aku yang menangis, bukan kau. Kau justru tersenyum dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kau bilang tulang kaki kananmu pasti akan kuat walaupun tidak diamputasi. Tapi apa? Kankermu justru menyebar ke seluruh tulang-tulangmu. Kau yang menahan sakit, justru lebih memprihatinkan bagiku.

Kimmy,
Besok aku ber-ulangtahun yang ke-26. Sudah tua ya? Di ulangtahunku yang ke-25, aku justru melihatmu tertidur selamanya dengan damai. Itu kado terakhirmu yang terindah untukku Kimmy. Andai saja kau masih di sini, aku ingin merayakannya bersamamu. Tak apa, walaupun aku harus merayakannya di rumah sakit. Apapun akan kulakukan, asal kau bahagia Kimmy. Apapun akan kulakukan, untuk membantumu menemukan makna hidupmu.

Kimmy,
Dulu kau pernah bilang bahwa hidupmu dan hidupku kini berbeda. Kenapa? Karena kau menderita kanker tetapi aku tidak? Atau karena kau duduk di kursi roda tetapi aku tidak? Dulu aku selalu berdoa supaya aku juga terkena kanker sama sepertimu, dan supaya aku juga duduk di kursi roda sepertimu. Tetapi Tuhan tidak mengabulkan doa-doaku. Kini aku tahu mengapa. Supaya kau yang duduk di kursi roda, dan aku yang mendorongnya.

Kimmy,
Kemarin aku bermimpi menghabiskan malam Natal bersamamu. Kau sungguh nyata saat itu. Membantuku meletakkan bintang di atas pohon natal. Dan memberikan aku sebuah kado yang kau bungkus dengan kertas hijau yang berisi sebuah topi dan sarung tangan rajutan bertuliskan inisial “M” yang kau ambil dari namaku. Saat itu adalah saat terindah bagiku. Tapi, tiba-tiba aku terlempar ke dalam dunia yang gelap. Aku takut. Tetapi sekeras suaraku memanggil, kau tetap tidak datang ke sisiku. Kau tidak ada untuk menemaniku. Aku sendiri. Aku menangis. Lalu aku terbangun. Alam nyata dan alam mimpiku sama. Sekeras suaraku memanggil, sama-sama tidak ada Kimmy di sisiku.

Kimmy,
Ada dimana Kimmy-ku? Kimmy yang selalu menjagaku. Kimmy yang selalu ada di sisiku di saat aku membutuhkannya. Kimmy yang selalu marah-marah karena hal yang sangat sepele. Kimmy yang tidak suka melihatku menangis. Kimmy yang tidak suka mendengarku meminta maaf. Kimmy yang menyukai es krim vanilla. Kimmy yang selalu tersenyum lembut—senyum yang bisa membuatku tenang. Kimmy yang suka bermain gitar. Kimmy yang suka makan pasta. Kimmy… Kimmy… Kimmy… Apa kau mendengarku dari Surga?

Kimmy,
Aku ingat. Kau punya mimpi. Tinggal di Paris denganku. Kau ingat? Kau pernah bilang, jika kita tinggal di Paris, setelah makan malam kau akan mengajakku ke menara Eiffel dengan Porsche Turbo mu. Lalu kita tinggal bersama di apartemen. Saat itu aku hanya tertawa mendengar mimpimu. Aku pikir itu semua terlalu muluk. Tapi Kimmy, apa kau tahu mimpiku? Mimpiku adalah bisa bertemu lagi denganmu. Sekarang kau yang menilai. Apa itu mustahil?

Kimmy,
Sekarang, untuk beberapa detik saja, aku ingin bersikap egois. Aku ingin kau terus menemaniku. Entah bagaimanapun caranya. Aku hanya ingin itu. Aku tahu, sikapku ini terlalu berlebihan dan menyebalkan. Tetapi ini semua karena aku merindukanmu.

Kimmy,
Dengarkan aku. Aku baik-baik saja di sini. Kau tidak perlu khawatir dengan keadaanku. Justru aku yang khawatir denganmu. Tapi, aku pikir kau curang. Kau tahu keadaanku karena kau bisa melihatku dari Surga. Tetapi, aku kan tidak bisa melihatmu dari sini.

Kimmy,
Terima kasih. Terima kasih atas semua yang telah kau lakukan untukku. Aku sangat senang bisa mengenalmu. Saat-saat bersamamu adalah saat-saat yang paling membahagiakan untukku. Andai waktu bisa berputar, aku ingin selalu dalam pelukanmu sambil merasakan kehangatan tubuhmu.

Kimmy,
Kau sedang apa? Kau sudah makan? Kau bahagia di sana? Kau bisa berjalan lagi? Bisa berlari dan melompat? Kau tidak merasa sakit kan? Aku yakin kau pasti baik-baik saja di sana, walaupun tidak ada aku di sisimu.

Kimmy,
Di akhir suratku, aku punya satu permintaan untukmu. Sederhana saja. Dan aku yakin, kau pasti bisa mengabulkannya. Aku ingin melihatmu tersenyum. Bukan senyum yang kau paksakan di dalam kesakitan dan penderitaanmu. Tetapi senyum yang kau sebut sebagai “senyum seribu watt” itu. Dan untuk yang terakhir kalinya, aku ingin berkata bahwa aku sangat menyayangimu di manapun kau berada Kimmy. Karena cintamu padaku, telah mengajariku banyak hal tentang kebahagiaan.

Love,
Mikky.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar